Postingan

- Menimba Ilmu, Menjaring Relasi dalam Temu Inklusi -

Gambar
- Menimba Ilmu, Menjaring Relasi dalam Temu Inklusi - Day 1 (Kamis, 25 Agustus 2016) Bemodalkan nekat, siang itu saya membawa si merah meluncur dari tempat PPL di kota bantul menuju arah Kulon Progo. Kenapa nekat? Karena saya belum mengetahui lokasi yang akan saya tuju. Bertepatan di Desa Sidorejo, Lendah, Kulonprogo acara sudah dimulai sejak hari kemarin, tim sudah berangkat sejak kemarin sore. Karena ada beberapa urusan yang masih harus diselesaikan saya memutuskan untuk berangkat sendiri. Sebelumnya, saya sempat mencari informasi mengenai lokasi tersebut. Sumber pertama mengatakan jika saya bisa lewat jalan bantul dan sumber lain mengatakan saya bisa mengikuti plang arah wates purworejo. Saya kira kedua penunjuk arah itu sama saja, setelah sampai di perempatan lampu merah jl.bantul saya ambil arah kanan dan mengikuti arah wates purworejo. Berhubung ada pesanan untuk mencetak brosur Braille’iant, saya terus melaju di jalan wates sampai km 7 saya menemukan tempat print. Untuk m...

PELAYAN PENGHUNI RAHIM

  Ibu Ibu sayang kepadaku Ibu selalu membelikan mainan Ibu itu cantik, seperti bidadari Ibu itu baik, seperti ibu peri Ibu sayang semuanya, ayah dan kakak Ibu sangat pintar, Ibu selalu membantuku mengerjakan PR (Buku catatan Heri Supriyadi, kelas 3 SD Jatiroyo, 2002) ***** Entah malaikat mana yang mengantarkan secarik buku ini ke hadapanku. Entah mimpi apa aku semalam hingga kudapatkan suatu hal yang membuatku tercengang. Ya, entah nyata atau mimpi, hingga aku menemukan secarik kertas di antara tengah buku anakku, anak keduaku yang membuatku kembali tersadar akan sisi baikku sebagai seorang wanita.             Bukan, bukan! Aku bukan seorang wanita! Aku seorang durjana yang haus akan kegelapan. Aku Dasamuka! Lalu? Apakah aku seorang ibu? Tidak! Sebutan itu tak layak untukku! Aku wanita hiburan, aku tersesat.             Berkali-kali aku t...

BUKIT DUA PENJURU

Hijau mulai pudar ketika kabut bersekongkol mengusir kedamaian sesaat setelah langit menumpahkan tangisnya. Seperti hatiku yang telah dilucuti kehampaan serupa perasaan langit, saat aku kembali memandangi bukit dua pohon tempat kita beradu dulu. Aku terpaku pada kenangan yang jelas terekam di ujung sana, di antara hamparan ilalang yang nampak memutih dan bergoyang syahdu, tempat tawa dan canda berpendar. Aku harap kau ingat semua itu, disaat kita beruntai memandangi kedua pohon di dekat bukit yang nampak mengalun lirih penuh kerindangan. Di sinilah tempat kita mengejar hujan, mengukir waktu dan memadu kasih layaknya sepasang merpati yang sedang kasmaran, disaat kau sering menemaniku untuk menikmati senja menghadap barat, tepat diantara kedua pohon itu bertahta. Bahkan kau juga telah mengajakku untuk mengukir nama kita di tubuh pohon itu. Alvent & April. Bukit ini telah melekat, bahkan telah akrab dengan kedatangan kita. Apalagi kedua pohon itu. Adalah palem yang berada di ...

Prolog : Dari Jogja untuk Jambi

Saya tidak mempunyai banyak cerita dari berbagai daerah di Indonesia, karena saya baru satu kali meninggalkan tanah Jawa saya demi membawa nama baik almamater tercinta UNY ke tanah minang. “Dari Jogja untuk Jambi” Saat itu H-2 sebelum deadline terakhir pendaftaran dan pengiriman karya tulis. Saat saya mengalami sebuah kecelakaan kecil yang sampai saat ini luka itu masih membekas di kaki. Saya terburu-buru hendak mengejar lembar pengesahan demi kelengkapan administrasi karya tulis saya untuk dikirim ke Jambi. Mungkin bisa di bilang iseng-iseng berhadiah. Awalnya saya mengirim proposal karya tulis tersebut hanya sekedar formalitas mengingat saya yang tergabung ke dalam salah satu Unit Studi Penalaran di tingkat Universitas tetapi belum pernah mengikuti ajang perlombaan ke luar kota. Sampai akhirnya usaha saya tersebut membuahkan hasil dan mengantarkan saya ke kampus pinang masak. Sekali lagi, saya anak lokal dari Jawa Tengah, sekolah tidak pernah jauh-jauh dari area Kota Bersinar....